MACAM
– MACAM KEBUDAYAAN ASLI BEKASI
Walaupun sebagian orang menyebut kota Bekasi adalah “Planet
Bekasi” yang asal muasal sebutan itu di buat karena kemacetan yang terjadi di
kota ini menyaingi ibu kota Jakarta. Jadi, Bekasi adalah wilayah yang
berbatasan langsung dengan daerah Jakarta sang Ibukota Indonesia, yang dalam
isitilah adalah urban. Banyak sekali masyarakat Bekasi yang bekerja di Jakarta
dan juga sebaliknya. Letaknya yang berbatasan langsung dengan Jakarta,
menyebabkan Bekasi menjadi salah satu kota yang paling cepet mengalami
perubahan dalam hal sosial, seperti ilmu pengetahuan.
Kota Bekasi memiliki luas wilayah sekitar 210,49 km2, dengan batas wilayah Kota Bekasi adalah :
·
Sebelah Utara : Kabupaten Bekasi
·
Sebelah Selatan : Kabupaten Bogor dan Kota Depok
·
Sebelah Barat : Provinsi DKI Jakarta
·
Sebelah Timur : Kabupaten Bekasi
Kebudayaan bekasi
itu campuran “Betawi’ dengan “Sunda”, mayoritas warga kota bekasi berasal dari
Jakarta dan sebagian daerah Kota Bekasi merupakan bagian dari provinsi Jawa
Barat yang merupakan territorial Sunda.
*BAJU KHAS BEKASI:
1. Batik Bekasi
Pada awalnya batik
ini dibuat oleh keturunan tionghoa, keluarga Tan-Tjeng-Kwat dan diberi nama
“Batik Tarawang” (Batik Tarum). Motifnya sendiri dipengaruhi oleh kegiatan
masyarakat Bekasi sehari-hari, diantaranya Bambu Runcing, Ikan Gabus, Tanjidor,
dll. Pakem Batik Bekasi tetap ada kepala (Isinya bisa bambu runcing, dsb). Gaya
Motif Batik dapat dikembangkan menjadia pembagian kain Pesisir dan Betawi, lalu kainnya sendiri ada yang lurus, agak
bebas, dan longgar (mencerminkan Jiwa Orang Bekasi Luwes), untuk warna biasanya
merah tanah, mempunyai filosofi keadaan suatu tempat di Bekasi atau khas dari
daerah Bekasi.


*MAKANAN KHAS BEKASI
:
1. Bandeng Rorot
Berbeda dengan ciri
khas Kota Semarang yang memiliki “Bandeng Presto”, “Bandeng Rorot” merupakan
makanan khas Kota Bekasi dimana duri-duri pada ikan bandeng tersebut telah
dipisahkan dari daging dan kulitnya.

2. Bir Pletok
“Bir pletok” ini
merupakan minuman khas dari Betawi. Karena masyarakat Bekasi juga banyak yang
keturunan Betawi, maka “Bir Pletok” ini juga menjadi salah satu minuman khas bekasi

3. Dodol Bekasi
Dodol ini hanya
muncul di waktu tertentu saja, misalkan pada Lebaran, Pernikahan, dan Sunatan.
Hal ini dikarenakan waktu pembuatannya yang relatif lama dan ketersediaan alat
yang sangat minim.

Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram.
Kujang merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata.
Menurut Sanghyang siksakanda ng karesian pupuh XVII, kujang adalah senjata kaum petani dan memiliki akar pada budaya pertanian masyarakat Sunda.
Kujang merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata.
Menurut Sanghyang siksakanda ng karesian pupuh XVII, kujang adalah senjata kaum petani dan memiliki akar pada budaya pertanian masyarakat Sunda.
Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit[butuh rujukan]. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406). Sementara itu, Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.
Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.
Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi. Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.


keren cuyy
BalasHapuswoww
BalasHapuskeren bingitss
BalasHapuskeren banget
BalasHapusmaterinya bagus untuk pelajaran
BalasHapusbbagus bgt
BalasHapus